Tidak semua cahaya yang menerangi perjalanan
ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Ada yang hadir sebentar,
sekadar membantu mata menemukan arah,
sebelum masing-masing kembali
menempuh jalan di bawah langit yang sama.
Begitulah kiranya kehidupan.
Allah mempertemukan manusia
dengan waktu dan alasan yang kadang
baru dapat dipahami setelah semuanya berlalu.
Jika pernah ada kata yang menjadi pelita
ketika langkahmu kehilangan arah,
atau nasihat yang menyerupai embun
di tengah perjalanan yang terasa gersang,
semoga semuanya benar-benar menjadi kebaikan
yang tumbuh dalam dirimu.
Namun, janganlah terlalu mengingat siapa
yang pernah menyalakan pelita itu.
Sebab cahaya bukan berasal dari tangan manusia,
melainkan dari Allah
yang menitipkan hikmah melalui siapa saja
yang dikehendaki-Nya.
Ana hanyalah seorang musafir
yang juga sedang belajar membaca peta kehidupan.
Terkadang memahami arah,
terkadang keliru memilih jalan,
dan sesekali membutuhkan seseorang
untuk mengingatkan bahwa perjalanan
tidak boleh berhenti hanya karena lelah.
Maka, jika pernah ada kebaikan
yang sampai kepadamu melalui diri ini,
anggaplah ia sebagai titipan,
bukan sesuatu yang harus dibalas,
bukan pula alasan untuk menambatkan langkah.
Tentang perpisahan,
barangkali kita seperti dua jalan setapak
yang sempat beriringan di sebuah persimpangan.
Pernah berada dalam satu arah,
saling menyaksikan perjalanan,
kemudian tiba waktunya
untuk kembali menuju tujuan masing-masing.
Tidak semua yang berpisah berarti kehilangan.
Tidak semua yang menjauh berarti melupakan.
Sebab ada hal-hal baik
yang tidak perlu terus digenggam
agar tetap memiliki makna.
Jika hujan pernah membuat perjalananmu berat,
semoga setelahnya Allah menghadirkan pelangi
yang mengajarkan bahwa mendung
bukanlah akhir dari sebuah musim.
Jangan jadikan satu musim yang berlalu
sebagai alasan untuk berhenti menanam.
Masih ada taman luas yang perlu dirawat,
masih banyak bunga yang menunggu mekar,
dan masih panjang perjalanan
yang perlu disambut dengan hati yang lapang.
Peliharalah hatimu sebagaimana seseorang
menjaga sesuatu yang berharga.
Tidak semua yang indah harus didekati,
tidak semua yang dirindukan harus dikejar,
dan tidak semua yang belum terjawab
harus dipaksakan menemukan kepastian.
Sebab ada doa yang cukup disampaikan,
ada harapan yang cukup dititipkan,
dan ada ketetapan yang sebaiknya
kita serahkan kepada Pemilik kehidupan.
Ana percaya,
setiap manusia memiliki musim bertumbuhnya sendiri.
Jangan terburu-buru menyalahkan diri
ketika sesuatu belum berjalan sebagaimana mestinya.
Bahkan pepohonan pun membutuhkan waktu
untuk menguatkan akar
sebelum berani meninggikan rantingnya.
Jika kelak kita mengenang masa ini,
semoga yang kita temukan bukanlah
penyesalan karena pernah berjumpa,
melainkan syukur karena pernah
menjadi bagian dari kebaikan satu sama lain.
Dan jika suatu hari jalan kita kembali bersinggungan,
semoga bukan lagi sebagai pribadi
yang membawa kegelisahan masa lalu,
melainkan sebagai hamba
yang telah tumbuh lebih dewasa,
lebih bijaksana,
dan lebih dekat kepada Allah.
Terima kasih telah menghargai
setiap kebaikan yang mungkin bagiku sederhana,
tetapi ternyata memiliki arti dalam perjalananmu.
Maafkan segala kekurangan
yang mungkin pernah menjadi mendung
dalam perjumpaan kita.
Semoga Allah menjadi langit
tempat segala doa kita bernaung,
menjadi cahaya ketika arah terasa samar,
dan menjadi sebaik-baik tempat kembali
ketika dunia tak lagi mampu memberikan jawaban.
Sebab pada akhirnya,
kita hanyalah para musafir
yang sedang menempuh perjalanan pulang
menuju rida-Nya.
Jazakillahu khairan katsiran.
Barakallahu fiiki.
Semoga langkahmu selalu dalam penjagaan-Nya,
dan semoga setiap musim kehidupan
membawamu semakin dekat
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Komentar
Posting Komentar