0412. ✨ Tentang Cahaya yang Singgah dan Jalan yang Harus Ditempuh ✨

Tidak semua cahaya yang menerangi perjalanan

ditakdirkan untuk tinggal selamanya.

Ada yang hadir sebentar,

sekadar membantu mata menemukan arah,

sebelum masing-masing kembali

menempuh jalan di bawah langit yang sama.

Begitulah kiranya kehidupan.

Allah mempertemukan manusia

dengan waktu dan alasan yang kadang

baru dapat dipahami setelah semuanya berlalu.


Jika pernah ada kata yang menjadi pelita

ketika langkahmu kehilangan arah,

atau nasihat yang menyerupai embun

di tengah perjalanan yang terasa gersang,

semoga semuanya benar-benar menjadi kebaikan

yang tumbuh dalam dirimu.


Namun, janganlah terlalu mengingat siapa

yang pernah menyalakan pelita itu.

Sebab cahaya bukan berasal dari tangan manusia,

melainkan dari Allah

yang menitipkan hikmah melalui siapa saja

yang dikehendaki-Nya.


Ana hanyalah seorang musafir

yang juga sedang belajar membaca peta kehidupan.

Terkadang memahami arah,

terkadang keliru memilih jalan,

dan sesekali membutuhkan seseorang

untuk mengingatkan bahwa perjalanan

tidak boleh berhenti hanya karena lelah.


Maka, jika pernah ada kebaikan

yang sampai kepadamu melalui diri ini,

anggaplah ia sebagai titipan,

bukan sesuatu yang harus dibalas,

bukan pula alasan untuk menambatkan langkah.


Tentang perpisahan,

barangkali kita seperti dua jalan setapak

yang sempat beriringan di sebuah persimpangan.

Pernah berada dalam satu arah,

saling menyaksikan perjalanan,

kemudian tiba waktunya

untuk kembali menuju tujuan masing-masing.


Tidak semua yang berpisah berarti kehilangan.

Tidak semua yang menjauh berarti melupakan.

Sebab ada hal-hal baik

yang tidak perlu terus digenggam

agar tetap memiliki makna.


Jika hujan pernah membuat perjalananmu berat,

semoga setelahnya Allah menghadirkan pelangi

yang mengajarkan bahwa mendung

bukanlah akhir dari sebuah musim.


Jangan jadikan satu musim yang berlalu

sebagai alasan untuk berhenti menanam.

Masih ada taman luas yang perlu dirawat,

masih banyak bunga yang menunggu mekar,

dan masih panjang perjalanan

yang perlu disambut dengan hati yang lapang.


Peliharalah hatimu sebagaimana seseorang

menjaga sesuatu yang berharga.

Tidak semua yang indah harus didekati,

tidak semua yang dirindukan harus dikejar,

dan tidak semua yang belum terjawab

harus dipaksakan menemukan kepastian.


Sebab ada doa yang cukup disampaikan,

ada harapan yang cukup dititipkan,

dan ada ketetapan yang sebaiknya

kita serahkan kepada Pemilik kehidupan.

Ana percaya,

setiap manusia memiliki musim bertumbuhnya sendiri.

Jangan terburu-buru menyalahkan diri

ketika sesuatu belum berjalan sebagaimana mestinya.

Bahkan pepohonan pun membutuhkan waktu

untuk menguatkan akar

sebelum berani meninggikan rantingnya.


Jika kelak kita mengenang masa ini,

semoga yang kita temukan bukanlah

penyesalan karena pernah berjumpa,

melainkan syukur karena pernah

menjadi bagian dari kebaikan satu sama lain.


Dan jika suatu hari jalan kita kembali bersinggungan,

semoga bukan lagi sebagai pribadi

yang membawa kegelisahan masa lalu,

melainkan sebagai hamba

yang telah tumbuh lebih dewasa,

lebih bijaksana,

dan lebih dekat kepada Allah.


Terima kasih telah menghargai

setiap kebaikan yang mungkin bagiku sederhana,

tetapi ternyata memiliki arti dalam perjalananmu.


Maafkan segala kekurangan

yang mungkin pernah menjadi mendung

dalam perjumpaan kita.


Semoga Allah menjadi langit

tempat segala doa kita bernaung,

menjadi cahaya ketika arah terasa samar,

dan menjadi sebaik-baik tempat kembali

ketika dunia tak lagi mampu memberikan jawaban.


Sebab pada akhirnya,

kita hanyalah para musafir

yang sedang menempuh perjalanan pulang

menuju rida-Nya.


Jazakillahu khairan katsiran.

Barakallahu fiiki.


Semoga langkahmu selalu dalam penjagaan-Nya,

dan semoga setiap musim kehidupan

membawamu semakin dekat

kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Komentar